Laman

Tampilkan postingan dengan label stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stories. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Oktober 2010

Terigu-terigu yang siap dibagi..

17 September 2010



Malam itu. Kami masih sibuk seperti biasa. Yaaahhh… biasalah, jaga toko.

Tapi yang tidak biasa pada hari itu adalah, sibuk tanpa orang tua.. Iyaahh.. soalnya mereka sedang pergi untuk menghadiri pernikahan temannya mereka..Akhirnya akuulaahh.. yang bertindak sebagai “orang-tua”. Mengontrol semua stock2 barang di toko, dan mulai mengatur adik2ku untuk menambahnya. Hehehe… nah, termasuk pekerjaan membungkus terigu. Yah memang sekalipun orang tuaku ada, tapi aku juga sering melakukannya bila nemu stock eceran lagi kosong….



laluuu aku pun mulai membungkus terigu…. Satu kilo, dua kilo, tiga kilo.. aku memasukannya dalam ember yang jaraknya sekitar 3-4 meter dari tempatku berdiri tadi. Lalu aku melanjutkan lagi sementara adikku sedang bermain hape, sepupuku sedang “entahlah ngapain” dengan mamanya…



dan tak terasa sudah sekitar lebih dari 5 kilo terigu yang sudah selesai aku bungkus tapi masih ada di sekitarku.. +.+.

Aku memang sengaja untuk tidak meminta siapapun untuk mengambil dan memasukannya dalam ember.. kenapaa?? Masalahnya, itu adalah pekerjaan yang sehari-hari yang sudah dilakukan. Bila ayahku yang membungkus, kami pasti siaga untuk memasukannya dalam ember. Jadi terigu tersebut tak akan dibiarkan untuk lama-lama di sekitar ayah saya…



Tapi kali ini tidak,. Herannya mereka, adik2ku ituuu bolak-balik di tempat aku berdiri dan tidak ada reaksi apapun untuk membawa terigu2 itu dan memasukannya di ember. Alhasil sekitar belasan bungkusan terigu aku biarkan di sekitarku dan memenuhi karung beras. Aku berusaha kendalikan diriku, sekalipun aku ingin marah.. *ya ampuunn adik-adikuu* mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing.. Gak peka, gak mau peduli, gak mau melihat kalau disini lagi butuh “bantuan”. Sebenarnya aku memang lagi buru-buru membungkus sekarung terigu itu sebelum jam 9 malam, toko kami tutup. Jadi aku konsen untuk membungkus dan berharap ada yang memasukannya dalam ember. Nyatanya, tidak ada.. dhuer.



Aku menunggu sambil terus membungkus terigu itu. Karung tempat aku menitip terigu tadi semakin penuh. Dan terigu di karungku sudah semakin sedikit, tapi tidak ada yang peduli. Oh my……..

Dan disitulah. Lagi2 Tuhan ngomong lewat kejadian terigu itu. Tuhan ini hobby kok ngomong di toko.. hehe..



“Berkat-berkat sudah Aku sediakan, Fan. Dan Aku sedang menunggu orang yang mau datang padaKu dan membagikannya kepada orang lain. Berkat-berkat sudah Aku sediakan, dan Aku sedang menunggu orang yang mau jadi jawaban bagi orang lain.”



Hayoo… sambil bungkus terigu aku diingatkan kalo seperti terigu yang sudah siap itu...Ituuuuu tugas kita, gereja. Orang-orang percaya, yang punya persekutuan dengan Tuhan, pengikut Kristus, orang Kristen. Berkat sudah disediakan Tuhan. Potensi sudah Tuhan berikan. Kemampuan dan kapasitas oleh anugerahNya, telah diberikan. Sekarang Tuhan Tanya, siapa yang peduli? Siapa yang mau datang dan lihat? Siapa yang mau keluar dari zona nyaman, siapa yang mau keluar dari urusan pribadinya dan mulai membagikan “terigu-terigu” itu kepada mereka yang membutuhkan? Apakah Tuhan bisa melakukannya sendiri? Apakah aku bisa menaruh terigu-terigu itu sendiri?

Ya tentu saja aku bisaaa. Ayolah. TENTU SAJA TUHAN BISA.



Tapi kenapa Tuhan juga memilih untuk menunggu orang-orang yang mau dipake untuk membagikan terigu itu? Heyy..apa sih yang membanggakan selain dari kita bisa dipakai Tuhan jadi rekan kerja-Nya untuk jadi berkat bagi orang lain? Hal yang paling luar biasa ketika kita meresponi panggilan Tuhan dalam hidup kita adalah kita akan mempunyai hubungan yang intim dengan-Nya. ITU LUAR BIASA. ITU MENGAGUMKAN!! yah waktu kita memutuskan untuk memberi, Tuhan pun akan menambah kapasitas, kita juga bisa memaksimalkan potensi dan kemampuan dalam membagi2 dan menyalurkan berkat... Oh seandainya saja, adik-adikku itu tahu, kalo dengan mengangkat terigu kilo2an itu termasuk latihan angkat beban yang membentuk otot2 mereka, dan membuat mereka jadi lebih sehat. Hehehe.. pekerjaan juga akan menjadi lebih cepat selesai!! Hmm!! Tapi sayangnya sampai jam 9 lebih, ketika aku memutuskan untuk menutup toko, baru sepupuku sadar kalo ada tumpukkan terigu sebegitu banyaknyaa,, huah… yaahh.. akhirnya di ending semua pada sibuk bikin ini itu.. coba dari tadi kek.. huehehe...



Yah itulah yang Tuhan sampaikan. Mengingatkan bahwa. Terigu-terigu dalam hidup kita, jawaban atas setiap permasalahan, damai sejahtera, sukacita,kreativitas, kuasa, apa saja yang kita sebenarnya mungkin orang lain butuhkan atau kita sendiri butuhkan, sudah tersedia. Karena Dia produsennya. Karena Dia sumbernya.

Mari datang padaNya, Tanya/ Buka mata. Buka mata. Siap tangan. Atau kalau sudah merasa mungkin terigu itu sudah ada di tangan kita, mari mulai membagi, mari mulai melangkah, mari mulai berkarya, mari mulai bertindak.

Tuhan sedang menunggu kita. Karena terigu-terigu itu sudah siap untuk dibagikan.



Ladang telah menguning, siap untuk dituai.



Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga (Efesus 1:3)

Minggu, 12 September 2010

Misi Pembersihan Bawang Putih

“Ce, tolong donk ‘bikin’ bawang-bawang ini” kata adikku. Maksudnya bikin disini adalah bersihin bawang putih tersebut lalu ditaruh di dalam bakul untuk dijual. Ya begitulah..

Karena rumahku ini juga toko serba ada, toko kelontong gitu, jadi bawang putih termasuk yang kami jual sehari-hari.


Setelah melayani para pembeli, aku lalu mulai mencari posisi yang pas di depan toko untuk duduk dan mulai mengerjakan misi pembersihan bawang.. hohoho.. bawang-bawang dalam misiku kali ini banyaknya setengah karung gitu, lumayan banyak ya tohh. Karung jala itu penuh dgn kulit2 bawang putih dan uniknya, beberapa “makhluk kecil-berwarna item!” doeng.. karena jenis karung ini seperti jala gitu, jadi otomatis tembus pandang. untung diriku plegma. Jadi waktu kulihat wujud makhluk itu, aku santai-santai aja. Huahuahuaua…


“srekk..srekk..” misi pun dimulai. Kumasukan tanganku, bawang putih kuambil lalu kubersihkan, sampahnya ditaruh dalam kardus, buah yang bersih kumasukan dalam bakul. Begitu seterusnya. Pekerjaan ini jadi asik dan menyenangkan karena aku mengerjakannya sambil dengar musik. Hehe.. iya soalnya kita sering puter lagu di toko, jadi asik lah…


“srek..srek..” setengah jam berlalu aku masih asik dengan bawang-bawang itu. Aku berusaha mengerjakannya dengan lebih cepat karena ada janji dengan teman2ku dan berharap pekerjaan ku ini segera selesai sebelum ayahku pulang dari belanja barang. Rasanya menyenangkan sekali kalo lihat papaku puas dengan kinerjaku dan adikku. Heheh..


Tapi ups.. tiba-tiba.. “Father pulang” kata adikku. Sok bahasa inggris gitu. Wkwkw.. waktu ayahku memarkir motornya dan menemukanku di depan pintu toko sedang membersihkan bawang-bawang itu, dia bertanya “kenapa ngak bilang BUDI (bukan nama sebenarnya, sepupuku, red) yang bikin aja?”,

“dia lagi pergi. Belajar kelompok tuh.” Jawabku enteng, sambil tetap fokus pada kerjaan di depan.


Papaku diam saja. Aku pun larut dalam misi ku lagi sampai akhirnya.. aku mendapati sebongkah bawang putih, waktu hendak kubersihkan, tiba-tiba..


Aku dikejutkan dengan makhluk-makhluk kecil yang bergerak cepat itu. “KYAAAAAA!!!”


Spontan kulepas bawang itu, dan berdiri. Adikku datang dan bertanya. “kenapa?” “ada mai-mai (hewan kecil seperti serangga, kecoak kecil, ulat dan sebangsanya, red)” aku meringis tapi sambil tertawa karena merasa bodoh sampai teriak seperti itu. “udahlah, buang saja.” Saran adikku. Kupandang karung berisi bawang itu. Emang sih tinggal sedikit. Aku diam saja, lalu kembali lagi membersihkan bawang itu.


Kubuka pelan-pelan kulit yang membungkusnya. Terlihat bayangan item disana. Aku menahan napas.

“tenanglah fan.. harusnya dia yang takut padamu” hiburku dalam hati.


Waktu ku buka, ternyata hewan itu keluar lagii.. “KYAAAAA!!” kedua kalinya aku membuang bawang2 ituu… (hiiii..) dan tiba-tiba mata plegma ku terbuka. Ternyata di sekitarku sudah banyak sekali hewan-hewan kecil itu. Huaaa…. Ada yang lumayan gede kayak kacang merah gitu, kebetulan warnanya juga sedikit merah, bergerak cepat ke bawah keset, yang lain bergerak di sekitar kakikuu (hiiii).. yang lain bergerak liar di dalam karung (T.T), dan waktu kuangkat karung tersebut, kulihat hewan-hewan kecil kayak ulat di atas lantai (hueee).. lalu kuingat kata-kata adikku. “buang sajalahh..” emang sih di antara bawang2 yang baik, ada yang cacat jugaakk karena pengaruh usia dan cuaca kali ya.. T.T


Tapi kupikir-pikir. Didalam karung itu masih ada bongkahan2 bawang yang harusnya lumayan banyak. Dan aku yakin yang disana bawangnya dalam keadaan yang baik-baik juga. turs bawang nih mahal harganya. Sayang kalo dibuang. Membuang bawang-bawang itu sama aja dengan membuang duit. Hiks. Akhirnya kuputuskan untuk tetap maju. Dengan menyisingkan lengan baju *halah*, ku ambil posisi di tempat yang tadi, menarik napas dan mulai memasukkan tanganku ke dalam karung itu.. batinku, “wahai engkau hewan2, minggir dari sini, bawang ini bukan rumahmu. Sana..sana.. hush..hush..” aku duduk dan mulai mengambil bawang-bawang itu satu persatu…..


Dan pelajaran pun dimulai..


tiba-tiba terlintas dalam pikiranku tentang sepupuku tadi.

Aku sebenarnya bertanya-tanya juga, kenapa ya papaku ngomong kayak tadi, “kenapa ngak dia aja”. Aku sempat sih berkata dalam hati, emangnya aku yang buat gak boleh? Gak apa2 kan kalo aku yang bikin ini.. tapi mungkin papaku tahu, kalo aku bakal mengalami yang kayak gini. Perjumpaan dengan makhluk-makhluk kecil yang tak bisa kusebut imut2 itu T.T.. dan pekerjaan yang bisa dibilang “kotor” sperti ini biasa dikerjakan oleh anak itu.


Aku juga lalu membayangkan. Sepertinya kalo si sepupuku yang bikin itu, dia pasti ngak mungkin lah kayak aku yang bisa sampe teriak2 karena kaget. Hehe.. anak itu sebenarnya bandelnya amit-amit, jadi sering disuruh bikin ini bikin itu dan dia nurut2 aja (mau ngak mau, soalnya kalo ngak mau pasti di rotan) jadi..aku piker.. pantaslah kalo dia udah biasa dgn hal2 yang “kotor” kayak gitu.. dan bagi yang terbiasa tinggal di lingkungan “istana” berani taruhan, waktu liat wujud hewan2 itu pasti udah terbirit2..


Waktu itulah sambil membersihkan bawang-bawang itu aku jadi teringat..


hal-hal yang ngak enak yang terjadi dalam hidup kita sebenarnya adalah persiapan supaya kita pun bisa punya sikap yang benar terhadap jiwa-jiwa.


Maksudku. Masa lalu kita. Masa lalu kita yang bobrok itu, yang Tuhan izinkan, hal2 kegagalan yang busuk, sampah dalam hidup kita Tuhan izinkan supaya kita pun bisa cukup kuat untuk menerima orang-orang yang penuh kelemahan dan kekurangan. Kita pernah merasakan apa yang mereka rasa, jadi kita cukup ngerti perasaan mereka saat menghadapii mereka.


Aku ini jarang mengerjakan yang “kotor-kotor” seperti itu selama di sby. Waktu pulang dan dihadapkan dgn seperti itu, aku ya cukup kaget juga menjumpai hewan-hewan itu. Padahal kalo liat papa n mama ku mereka tenang2 aja. >.< atau pembantu rumah tangga.. ya itu karena mereka udah biasa. dan dibandingkan dengan sepupuku itu.. ya aku kalah lah. hehe..



Lalu tiba-tiba..



“fanny itu ya kayak itu..” Eh?

Tuhan ingetin aku kalo aku tuh kayak bawang-bawang itu. Yang sebenarnya tuh bisa dibuang saja kok. Yang sudah dipenuhi dgn “mai-mai”.

Waktu aku mikir tindakan ku tadi, misalnya aku ngak pengen tanganku kotor, sudah kubuang saja tuh bawang-bawang itu. Tapi kenapa ngak kubuang. Karena sayang. Karena tahu bawang itu harganya mahal. Karena sadar, kalo satu siung bawang putih aja bisa tumis sayur kangkung yang bisa dimakan sama anak-anak kos yang lagi kelaparan n kere. Hehe.. satu siung aja masih ada gunanya.


Tuhan ingetin kalo manusia tuh ya.. ya kayak gitu.

Tuhan tahu berharganya manusia, Tuhan sayang sama manusia, dan Dia tahu manusia tuh sekalipun mungkin terlihat “ngak berharga” satu siung bawang putih tapi berguna.. karena Dia menciptakan kita semua ada tujuan.. dank arena itu, Dia mau tuh.. kotor.. ke dunia-karung yang penuh dosa-sampah, untuk cari kita-bawang putih.. dan supaya kita yang di tangan Tuhan-Sang Koki, kita bisa jadi masakan-berkat yang enak-memuliakan Bapa di Surga.


Aku sadar betul, papaku keluarin duit banyak untuk beli bawang putih itu.. Jadi aku cukup sayang lah masa harus kubuang, sedangkan kalo bertahan sedikit lagi.. bawang-bawang itu bisa kuselamatkan..hehe.. Jadinya aku putuskan untuk kembali lagi.


Lalu.. sekali lagi Tuhan ingetkan. Jiwa-jiwa. Tuhan sudah bayar mereka. Lunas. Mereka tuh berharga mahal. Tuhan pengen kita bisa jadi orang-orang yang rela untuk memasukkan tangan ke karung dan mencari jiwa-jiwa itu. Menerima mereka. Mengasihi mereka. Makanya Tuhan mungkin lagi persiapkan kita lewat hal-hal yang ngak menyenangkan. Supaya kita bisa ngerti kondisi mereka. Sama seperti Tuhan Yesus yang lebih dulu mengerti kita. Yang sudah jadi seperti manusia. Dia tahu pergumulan kita…


Jadi. kalo suatu saat makan n nemu bawang putih.. perlu diinget kali ya..

Mungkin bawang itu ada di masakan itu karena ada usaha orang yang rela kotor, rela berjumpa dengan "mai-mai", rela berjuang untuk satu siung bawah putih supaya bisa jadi masakan yang enak untuk kita. Lalu inget, kalo manusia aja bisa mau berjuang untuk bawang putih, apalagi Bapa di Surga. Dia menyerahkan AnakNya supaya menebus kita. Dan bagaimana perjuangan Tuhan Yesus menyelamatkan kita...


o ya, akhirnya.. aku berhasil menyelesaikan misi pembersihan itu, tepat pada waktunya lagi. puas deh.

banyak skali kutemukan bawang yang tinggal siung2 gitu,

dan makhluk2 kecil itu sudah ngak lagi membuatku takut. malah sempat kuselentik juga pake jari biar mereka terhempas jauh. huwakakakak..

yah sekian laporan misi pembersihan dan penyelamatan bawang putih.


Tuhan Yesus memberkati.

Sabtu, 04 September 2010

Anak-anak itu datang lagi...

Anak itu datang…

Membeli makanan kecil..

Kemudian pergi..

Lalu kembali lagi..

Membeli makanan kecil.. ditambah minuman dingin..

Lalu pergi lagi..


Aku kembali ke tempat dudukku

Hendak mengirim sms untuk temanku..

Kemudian

Langkah kaki kecil itu terdengar lagi…

Dengan suara tawa cekikan mengiringi..

Kali ini dia tidak sendiri…

Suaranya pelan..

Berusaha untuk menyampaikan pesanan..

Terbata-bata

Aku harus membungkukkan badan,

“Apa?? Ngomong yang keras!”

Mencoba mendengar dan mengulangi apa yang kudengar darinya

“Ada lagi? Ini saja?”

Memastikan bahwa itu adalah apa yang ingin dia beli..


Kukumpulkan pesanannya,

Masukkan dalam kresek

Lalu kuberikan padanya..

Tapi harus kupastikan lagi

Bila semuanya dalam keadaan baik-baik saja..

Kresek yang baik

Uang kembalian yang benar


“terima kasih, kak”

Suara kecil itu berkata..

Dengan bersemangat..

Segera dia berlalu..

Aku memperhatikannya dari jauh

Berharap dia sampai dengan keadaan baik..


Aku kembali lagi ke tempat dudukku..

tak sampai beberapa menit,

Suara langkah kaki yang sama mendekat lagi..

Aku pun bangkit lagi..

Sebisaku memberikan senyuman terbaik

“Mau beli apa lagi?!”


Begitu lagi..

Tiap hari begitu..

T.T


Tapi..

Setelah kupikir-pikir..

Tuhan tuh sangat mengerti

Dan sabar dalam menghadapi

Satu2 Dia perhatikan

Dan dijawabnya dengan lembut

Tidak kesal dan menggerutu

Sekalipun kita datang menuntut

Dengan pertanyaan yang sama

Dengan keinginan yang sama

Dengan kebodohan yang sama..


Mungkin terlihat seperti anak kecil..

Tapi Dia tetap sabar dan mengerti

Membungkuk dan mendengar dengan hati

Dan tetap mengasihi..

Sampai kita mengerti

Dan keinginanNya yang kita ikuti..

T.T


Kalau begini..

Sebagai ungkapan syukur dari hati

Kita memang harus saling mengasihi..


Bagi yang sedang tak enak hati..

Semangat yaa…

Tuhan Yesus yang mengerti

telah memberikan teladan yang sangat berarti..

supaya kita yang telah menjadi anak-anak Ilahi

menjadi terang bagi dunia ini..


Tuhan berkati :)


*ehmm.. tertemplak lagii dgn kejadian hari ini.. >.< mungkin kita punya orang2 disekitar yang sering bikin kita jengkel nya luar biasa kan?

tapi lewat ini aku diingatkan lagi untuk tetap bersabar... krn itu tadi.. Tuhan lebih dulu mengerti dan memberikan teladan. :D smangat smangat :)"


kadang2 kita lebih senang melayani mrk yg belanja barang2 besar, jumlah banyak, org2 dewasa.. lalu meremehkan yg kecil2..anak kecil mungkin.. tp sebenernya wktu nghadepin yg kecil ini.. yg keliatan sepele ini.. karakter ...kita diproses...

dan Tuhan Yesus itu pribadi yg mementingkan semua.. kecil besar. kalo kecil aja sgt diperhatikan. apalagi kita. huhuhu...

rasanya senang wktu anak2 itu tersenyum bahagia dapet apa yg mrk inginkan. plus: senyuman dr saya. hahahahaha

Rabu, 13 Mei 2009

Rotan Ayah

Waa…Aku melakukan kesalahan.
Lagi.


Masalahnya, aku lupa apa yang aku lakukan waktu itu. Huahaha…
3 tahun yang lalu? Entah.
2005 atau 2006. lama ya tohh..


Tapi ketika aku mengerti arti dari kejadian itu. Yang teringat bukan lagi sakit hati.
Apalagi kepahitan.


Waktu itu…
Wajahku pucat. (tepatnya aku merasa begitu)
Perasaanku tidak enak. Campur aduk.
Kesal, sedih, jengkel. Menyesal, membangkang, tidak mau tahu.
Ngak jelas. Tentu saja, karena aku sudah lupa. :p


Yang pasti aku bertengkar dengan ayahku.
Oh yeah, aku merasa hebat saat itu. Pikirku aku hebat.
Aku tidak mengerti yang namanya tunduk.
Gak pernah dengar (baca: gak sadar). Gak tahu (baca: gak mau tahu).
Jadi ya tidak kulakukan.
Mungkin waktu itu aku ingin melakukan yang baik. Tapi dengan cara yang salah.
Ya salah lah, kalo sampai tidak menghormati orang tua. Apalagi sampai membuatnya panas hati. Ganti air, ku siram bensin. Makin ’berkobar-kobarlah’ dia.
Menyeramkan.


........
Aku masuk ke kamarku
Ingin kutenangkan hatiku yang panas ini. (sepertinya bensin tadi nyiprat ke diriku juga)
Sakitnya minta ampun. Padahal aku yang melakukan kesalahan, tapi aku juga merasa sakit. Whateverlah rasanya. Pokoknya tidakk enaaakkk...


”PRAK” kira-kira begitu deh bunyinya..


Aku kaget. Suaranya sangat keras. Dari arah dapur. Sesuatu yang buruk terjadikah?
Aku keluar kamar dan mengintip dari jauh. Tidak ada apa-apa.
Bunyi apa ya itu? seperti bunyi rotan. Peduli amat.
Ya sudahlah.. Aku masuk ke kamar lagi.


Setelah merasa tenang, aku segera ke dapur.
Mengambil minum dan beberapa makanan.
Tiba-tiba perhatianku tertuju pada sebuah benda yang tidak jauh dari tempat aku berdiri. Benda yang diletakkan tidak pada tempatnya.
Benda yang sangat ku kenali. Rotan. Iya rotan. Bukan roti. Bukan rotan yang tipis. Bukan pula roti isi. (pliz deh, fan. Rotan)
Whoaa..
Ini kerabat si rotan yang pernah ”dicicipi” oleh kakak dan adikku. Mereka masih satu family. Dan.. Oh, jangan tanya rasanya kayak apa. Percayalah itu tidak menyehatkan. Lupakan saja. kamu pasti tidak menyukainya. Sekalipun aku tidak pernah mencicipinya. Tapi aku saksi mata.



Dan sekarang... benda itu berada tidak sampai satu meter di dekatku. Kenapa ya? Tanyaku dalam hati. Waw..coba lihat. Sepertinya baru saja digunakan. Ada retakan gitu. Dan tiba-tiba aku menyadari asal bunyi ”Prak” yang aku dengar tadi. Tapi masih tidak kumengerti juga


Sampai akhirnya...........................................
Lama setelah kejadian itu, aku ke gereja. Tepat pada perayaan Jumat Agung.
Aku mendengar khotbah sang pendeta dan tiba-tiba aku teringat dengan kejadian rotan ayahku waktu itu. Pendeta itu, dia seorang ayah dari 2 anak. Dan dia menceritakan pengalamannya.


”anak saya yang masih kecil pernah melakukan kesalahan. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Saya tidak bisa memarahinya apalagi memukulnya. Tapi Saya merasa sangat jengkel. Dan waktu saya tidak tahan, saya melepaskan pukulan ke dinding. Itu mungkin menyakiti saya. Lebih baik daripada saya menyakiti anak saya yang saya kasihi.”


Memoriku tentang bunyi ”Prak” yang aku dengar waktu itu kembali muncul.
Aku mulai memahami maksudnya.. Air mataku menetes.


Ternyata waktu itu ayah mengambil rotan dan memukulnya ke lantai. Bunyinya sangat keras. Aku bisa merasakan betapa panas hatinya waktu itu.
Dan itu adalah cara Ayah melepaskan kemarahannya.
Dia punya alasan untuk menghajarku. Me’rotan’i ku. Tapi dia tidak melakukannya padaku.
Aku tidak mengerti kenapa.
Aku hanya bisa percaya bahwa ternyata.... Dia mengasihi ku.
Dan dia memilih untuk bertindak seperti itu.
Baginya itu lebih baik daripada aku harus mencicipi rotan tersebut.


wehh.. bapa di bumi aja bisa kayak gitu...apalagi Bapa yang di Surga?


Inilah momen paskah pertama yang membekas di hatiku. Peristiwa yang indah.
Aku berjumpa dengan Bapa yang saking mengasihi manusia, memilih untuk menyakiti diri-Nya sendiri, menderita. Bahkan dalam rupa manusia, Dia taat sampai mati. Dan bangkit, agar manusia yang dikasihiNya bisa mengalami kehidupan kekal bersama Dia.


Dari bapa yang tidak sempurna. Aku belajar tentang kasih Bapa yang sempurna.


What can separate me now?
Apa sih yang bisa memisahkanku dari kasih Allah?


Punya bapa yang tidak sempurna di dunia ini ternyata tidak mutlak menghalangiku untuk mengalami kasih Bapa yang sempurna.


Bapa di Surga ngak cuma mengasihimu.
Tapi sangaaaaat mengasihimu.
Dia ngak hanya mati buat nebus dosa2mu…
Tapi Dia hidup supaya kita pun bisa hidup baru bersama Dia..
Hanya karena Dia.



Yesus…Baik ya? ^^

Selasa, 12 Mei 2009

Akulah Penyebabnya


Hanya satu keinginanku saat ini. Aku ingin semuanya kembali seperti biasa. Aku ingin orang tua ku berbaikan kembali. Aku frustasi melihat mereka seperti ini. Ayah yang dingin namun menyimpan panasnya amarah. Ibu yang biasanya hangat kini terluka.

Tidak ada yang bisa kulakukan selain berharap yang terbaik. Aku ingin bersikap cuek, tapi aku tahu perasaan itu tidak bisa bertahan lama. Ada sesuatu yang mengiris-ngiris hatiku, mengingatkanku kalau masih ada yang bisa kulakukan.

Mataku tidak bisa kututup begitu saja. Aku tahu betul apa yang sudah aku lakukan.


Akulah penyebabnya.

Dalam sebulan ini aku banyak menggunakan internet di rumah. Aku cuek dan tidak mau mengerti berapa banyak biaya yang akan dikeluarkan untuk kesenanganku belaka. Dasar egois. Aku bersenang-senang dan tagihannya pun membengkak. Celaka besar. Belum pernah tagihan telepon kami bisa melompat tinggi seperti itu. Dan kejadian hari ini seperti bom atom yang menghantam sikap cuek ku. *bummm...*


Mereka bertengkar hebat hari ini. Ayah marah dan merusak semua roti dan kue yang ibu buat untuk dijual di toko. Mereka bertengkar mulut. Saling menyalahkan. Ibu tidak tahan. Lalu dia pergi.

Kenapa harus saling menyalahkan? Marahi saja aku.


Akulah penyebabnya.

Seandainya aku bisa mengendalikan keinginanku..

Seandainya aku menyadarinya sejak dulu..

Seandainya aku lebih berhikmat lagi..

Dan saat ini aku ditantang.



Berhenti berkata: seandainya...

Dan Oh... berhentilah menutup mata, fan!

hadapi segala resiko!

Lalu apa yang dapat kulakukan? Pertanyaan yang bagus.

Baiklah. Aku sadar aku tidak perlu menjadi pahlawan yang membela ibuku, atau penasehat ayahku.. Whoa.. Tentu saja aku tidak punya kemampuan untuk itu..


Sekalipun aku tidak mempunyai hal yang berarti yang dapat kulakukan untuk membuat mereka berdua baikan. Tapi.... Mungkin.......Aku masih punya langkah awal yang penting untuk masalah ini. Karena ini bermula dari aku. Iya, aku sadar.


Kamu harus minta maaf.


Apa?? Aku ngeri karena kalimat itu tiba-tiba muncul di kepalaku.

Aku harus minta maaf? Tunggu sebentar. Yang benar saja.

Aku tidak pernah melakukannya. Tidak. Dan aku tidak mau melakukannya. Tidaaaaaaaaakkkk,........


Aku tahu aku penakut. Aku tahu aku sungkan sama ayahku. Tidak mungkin.

Kuurungkan niat itu. Dan berkata sudahlah... (tak apa kan? Toh bukan ”seandainya...”)

Tapi Oh, kenapa lagi. Hatiku mendesakku untuk melakukannya.

Kepalaku tak henti memikirkannya. Aku harus bertindak. Untukku dan mereka.


Aku harus minta maaf.

Entah apa yang akan terjadi nantinya.

Aku memilih untuk melakukan bagianku sekarang.


Aku akan minta maaf.


Cemas. Aku bolak balik di belakang ayahku yang sedang menonton TV.

Bagaimana aku harus memulainya?

Aku ragu. Akankah dia menertawakanku?

Rupanya dia menyadari ada yang aneh dengan anak perempuannya.

Dia membalikkan badan dan melihatku yang berdiri dengan gugup.


“Kamu kenapa??” tanyanya heran namun terdengar sekali masih emosi.

“aku...”, aku menguatkan diriku dan mulai berkata,

“fan minta maaf, fan tahu ini kesalahan fan...”

Tiba-tiba air mata mengalir ke pipiku. Perasaanku hancur seketika.


“aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi... papa jangan marah mama...” pintaku terisak-isak. Aku tidak sanggup melanjutkannya lagi. Lidahku kelu. Percuma aku menjelaskan. Kata-kataku semakin tidak jelas. Tenggelam karena isakan. Oh aku hanya ingin mereka kembali berbaikan.


Aku tidak dapat melihat raut wajahnya dengan jelas. Penglihatanku kabur karena air mata.

Aku hanya dapat mendengarnya memerintahku untuk pergi keluar membantu di toko.

“Kamu tidak salah,” kalimatnya barusan terngiang-ngiang dikepalaku.

Aku tidak mengerti. Mengapa dia mengatakan kalau ibuku yang menjadi masalahnya. Padahal aku tahu dengan jelas.... ini salahku.


Akulah penyebabnya.


Apapun maksudnya, bagiku hari itu melihat ibu kembali ke rumah, berkomunikasi dengannya dan beraktivitas seperti biasa adalah hal yang menggembirakan. Sekalipun aku mungkin tidak pernah tahu ada apa didalam hati mereka.

Tapi aku tahu betul apa yang telah aku lakukan hari itu, ternyata menunjukkanku pada hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya.

“kamu tahu, papa tadi ke toko komputer,”

katanya 2 hari kemudian. ”aku melihat ada yang namanya “webcam”. Itu alat yang dapat kamu gunakannya waktu kamu chatting, sehingga lawan bicaramu bisa melihat wajahmu, dan kamu juga bisa melihatnya.

Bagaimana? Kalau kamu mau, kita akan membelinya.”


Aku terheran-heran. Sungguh. Aku menganga. Apa aku tidak salah dengar? Ayahku yang 2 hari lalu marah besar sekarang berkata seperti itu? Dan aku melihat raut wajahnya yang tidak kusangka-sangka saat dia berkata seperti itu. Hey, dia tersenyum.

“Ah, tidak usahlah pa. Aku tidak memerlukannya.”

Kataku pula sambil tersenyum. Sebenarnya yang ingin kukatakan padanya

”aku hanya ingin menepati janjiku, Pa.”


Aku sadar kenakalanku. Tapi maksud baiknya membuatku terharu.

Aku pikir aku hampir saja ”menghancurkan” keluargaku.

Dan aku tidak menyangka ayahku belum ’kapok’ dengan kenakalanku.

Maksudku. Kalau aku menggunakannya aku bakal membengkakkan tagihan lagi.

Tapi kenapa dia menawarkan hal itu padaku lagi.


Ternyata, dia tidak hanya memaafkanku, dia memberi solusi.

Ayah menyarankanku suatu cara supaya aku bisa menggunakan internet dengan lebih bijak. Tidak hanya itu.

Dia percaya padaku. Dia percaya aku bisa menepati janjiku. Sekalipun aku belum melakukannya.

Aku menghargainya. Dan yang bisa kulakukan adalah tidak membuatnya kecewa untuk kedua kalinya.

Sejak saat itu pertengkaran ’karena’ tagihan telepon tidak pernah terjadi lagi. Ibu bisa membuat roti dan kue dengan tenang. Bahkan dibantu oleh Ayah.


Kamu harus minta maaf.

Aku terbayang. Bila aku tidak melakukan hal kecil tersebut. Mungkin aku tidak pernah melihat kejadian hari ini.


Aku minta maaf.

Aku mungkin tidak mengetahui apa dampaknya waktu aku melakukannya pada hari itu juga. Karena yang kulihat hanya perasaanku yang hancur.

Tapi pesan itu sepertinya diterjemahkan secara lebih kepada ayahku. Entah bagaimana.

Dan ibuku. Dia tahu aku minta maaf pada Ayah. Seseorang memberitahunya.


Aku minta maaf. Itulah langkah awal aku mulai merobohkan dinding keegoisanku dalam hubungan antara aku dengan ayah. Dan aku melihat dinding-dinding itu semakin menipis sekarang. Itulah untuk pertama kalinya dalam hidupku aku mengatakannya kepada ayahku.


Aku minta maaf.

Aku percaya tiga kata itu telah membawa perubahan terhadap komunikasi kami.

tapi dibalik semua itu aku menyadari ada Dia yang memberikan tiga kata itu di lidahku. Menguatkanku saat aku berkata-kata dan yang menerjemahkannya ke hati Ayah dan Ibuku. Dan.... Dia juga yang sedang menerjemahkan tulisanku ke hatimu. Dialah “penyebabnya“.


Aku sungguh bersyukur padaNya.