Laman

Minggu, 12 September 2010

Misi Pembersihan Bawang Putih

“Ce, tolong donk ‘bikin’ bawang-bawang ini” kata adikku. Maksudnya bikin disini adalah bersihin bawang putih tersebut lalu ditaruh di dalam bakul untuk dijual. Ya begitulah..

Karena rumahku ini juga toko serba ada, toko kelontong gitu, jadi bawang putih termasuk yang kami jual sehari-hari.


Setelah melayani para pembeli, aku lalu mulai mencari posisi yang pas di depan toko untuk duduk dan mulai mengerjakan misi pembersihan bawang.. hohoho.. bawang-bawang dalam misiku kali ini banyaknya setengah karung gitu, lumayan banyak ya tohh. Karung jala itu penuh dgn kulit2 bawang putih dan uniknya, beberapa “makhluk kecil-berwarna item!” doeng.. karena jenis karung ini seperti jala gitu, jadi otomatis tembus pandang. untung diriku plegma. Jadi waktu kulihat wujud makhluk itu, aku santai-santai aja. Huahuahuaua…


“srekk..srekk..” misi pun dimulai. Kumasukan tanganku, bawang putih kuambil lalu kubersihkan, sampahnya ditaruh dalam kardus, buah yang bersih kumasukan dalam bakul. Begitu seterusnya. Pekerjaan ini jadi asik dan menyenangkan karena aku mengerjakannya sambil dengar musik. Hehe.. iya soalnya kita sering puter lagu di toko, jadi asik lah…


“srek..srek..” setengah jam berlalu aku masih asik dengan bawang-bawang itu. Aku berusaha mengerjakannya dengan lebih cepat karena ada janji dengan teman2ku dan berharap pekerjaan ku ini segera selesai sebelum ayahku pulang dari belanja barang. Rasanya menyenangkan sekali kalo lihat papaku puas dengan kinerjaku dan adikku. Heheh..


Tapi ups.. tiba-tiba.. “Father pulang” kata adikku. Sok bahasa inggris gitu. Wkwkw.. waktu ayahku memarkir motornya dan menemukanku di depan pintu toko sedang membersihkan bawang-bawang itu, dia bertanya “kenapa ngak bilang BUDI (bukan nama sebenarnya, sepupuku, red) yang bikin aja?”,

“dia lagi pergi. Belajar kelompok tuh.” Jawabku enteng, sambil tetap fokus pada kerjaan di depan.


Papaku diam saja. Aku pun larut dalam misi ku lagi sampai akhirnya.. aku mendapati sebongkah bawang putih, waktu hendak kubersihkan, tiba-tiba..


Aku dikejutkan dengan makhluk-makhluk kecil yang bergerak cepat itu. “KYAAAAAA!!!”


Spontan kulepas bawang itu, dan berdiri. Adikku datang dan bertanya. “kenapa?” “ada mai-mai (hewan kecil seperti serangga, kecoak kecil, ulat dan sebangsanya, red)” aku meringis tapi sambil tertawa karena merasa bodoh sampai teriak seperti itu. “udahlah, buang saja.” Saran adikku. Kupandang karung berisi bawang itu. Emang sih tinggal sedikit. Aku diam saja, lalu kembali lagi membersihkan bawang itu.


Kubuka pelan-pelan kulit yang membungkusnya. Terlihat bayangan item disana. Aku menahan napas.

“tenanglah fan.. harusnya dia yang takut padamu” hiburku dalam hati.


Waktu ku buka, ternyata hewan itu keluar lagii.. “KYAAAAA!!” kedua kalinya aku membuang bawang2 ituu… (hiiii..) dan tiba-tiba mata plegma ku terbuka. Ternyata di sekitarku sudah banyak sekali hewan-hewan kecil itu. Huaaa…. Ada yang lumayan gede kayak kacang merah gitu, kebetulan warnanya juga sedikit merah, bergerak cepat ke bawah keset, yang lain bergerak di sekitar kakikuu (hiiii).. yang lain bergerak liar di dalam karung (T.T), dan waktu kuangkat karung tersebut, kulihat hewan-hewan kecil kayak ulat di atas lantai (hueee).. lalu kuingat kata-kata adikku. “buang sajalahh..” emang sih di antara bawang2 yang baik, ada yang cacat jugaakk karena pengaruh usia dan cuaca kali ya.. T.T


Tapi kupikir-pikir. Didalam karung itu masih ada bongkahan2 bawang yang harusnya lumayan banyak. Dan aku yakin yang disana bawangnya dalam keadaan yang baik-baik juga. turs bawang nih mahal harganya. Sayang kalo dibuang. Membuang bawang-bawang itu sama aja dengan membuang duit. Hiks. Akhirnya kuputuskan untuk tetap maju. Dengan menyisingkan lengan baju *halah*, ku ambil posisi di tempat yang tadi, menarik napas dan mulai memasukkan tanganku ke dalam karung itu.. batinku, “wahai engkau hewan2, minggir dari sini, bawang ini bukan rumahmu. Sana..sana.. hush..hush..” aku duduk dan mulai mengambil bawang-bawang itu satu persatu…..


Dan pelajaran pun dimulai..


tiba-tiba terlintas dalam pikiranku tentang sepupuku tadi.

Aku sebenarnya bertanya-tanya juga, kenapa ya papaku ngomong kayak tadi, “kenapa ngak dia aja”. Aku sempat sih berkata dalam hati, emangnya aku yang buat gak boleh? Gak apa2 kan kalo aku yang bikin ini.. tapi mungkin papaku tahu, kalo aku bakal mengalami yang kayak gini. Perjumpaan dengan makhluk-makhluk kecil yang tak bisa kusebut imut2 itu T.T.. dan pekerjaan yang bisa dibilang “kotor” sperti ini biasa dikerjakan oleh anak itu.


Aku juga lalu membayangkan. Sepertinya kalo si sepupuku yang bikin itu, dia pasti ngak mungkin lah kayak aku yang bisa sampe teriak2 karena kaget. Hehe.. anak itu sebenarnya bandelnya amit-amit, jadi sering disuruh bikin ini bikin itu dan dia nurut2 aja (mau ngak mau, soalnya kalo ngak mau pasti di rotan) jadi..aku piker.. pantaslah kalo dia udah biasa dgn hal2 yang “kotor” kayak gitu.. dan bagi yang terbiasa tinggal di lingkungan “istana” berani taruhan, waktu liat wujud hewan2 itu pasti udah terbirit2..


Waktu itulah sambil membersihkan bawang-bawang itu aku jadi teringat..


hal-hal yang ngak enak yang terjadi dalam hidup kita sebenarnya adalah persiapan supaya kita pun bisa punya sikap yang benar terhadap jiwa-jiwa.


Maksudku. Masa lalu kita. Masa lalu kita yang bobrok itu, yang Tuhan izinkan, hal2 kegagalan yang busuk, sampah dalam hidup kita Tuhan izinkan supaya kita pun bisa cukup kuat untuk menerima orang-orang yang penuh kelemahan dan kekurangan. Kita pernah merasakan apa yang mereka rasa, jadi kita cukup ngerti perasaan mereka saat menghadapii mereka.


Aku ini jarang mengerjakan yang “kotor-kotor” seperti itu selama di sby. Waktu pulang dan dihadapkan dgn seperti itu, aku ya cukup kaget juga menjumpai hewan-hewan itu. Padahal kalo liat papa n mama ku mereka tenang2 aja. >.< atau pembantu rumah tangga.. ya itu karena mereka udah biasa. dan dibandingkan dengan sepupuku itu.. ya aku kalah lah. hehe..



Lalu tiba-tiba..



“fanny itu ya kayak itu..” Eh?

Tuhan ingetin aku kalo aku tuh kayak bawang-bawang itu. Yang sebenarnya tuh bisa dibuang saja kok. Yang sudah dipenuhi dgn “mai-mai”.

Waktu aku mikir tindakan ku tadi, misalnya aku ngak pengen tanganku kotor, sudah kubuang saja tuh bawang-bawang itu. Tapi kenapa ngak kubuang. Karena sayang. Karena tahu bawang itu harganya mahal. Karena sadar, kalo satu siung bawang putih aja bisa tumis sayur kangkung yang bisa dimakan sama anak-anak kos yang lagi kelaparan n kere. Hehe.. satu siung aja masih ada gunanya.


Tuhan ingetin kalo manusia tuh ya.. ya kayak gitu.

Tuhan tahu berharganya manusia, Tuhan sayang sama manusia, dan Dia tahu manusia tuh sekalipun mungkin terlihat “ngak berharga” satu siung bawang putih tapi berguna.. karena Dia menciptakan kita semua ada tujuan.. dank arena itu, Dia mau tuh.. kotor.. ke dunia-karung yang penuh dosa-sampah, untuk cari kita-bawang putih.. dan supaya kita yang di tangan Tuhan-Sang Koki, kita bisa jadi masakan-berkat yang enak-memuliakan Bapa di Surga.


Aku sadar betul, papaku keluarin duit banyak untuk beli bawang putih itu.. Jadi aku cukup sayang lah masa harus kubuang, sedangkan kalo bertahan sedikit lagi.. bawang-bawang itu bisa kuselamatkan..hehe.. Jadinya aku putuskan untuk kembali lagi.


Lalu.. sekali lagi Tuhan ingetkan. Jiwa-jiwa. Tuhan sudah bayar mereka. Lunas. Mereka tuh berharga mahal. Tuhan pengen kita bisa jadi orang-orang yang rela untuk memasukkan tangan ke karung dan mencari jiwa-jiwa itu. Menerima mereka. Mengasihi mereka. Makanya Tuhan mungkin lagi persiapkan kita lewat hal-hal yang ngak menyenangkan. Supaya kita bisa ngerti kondisi mereka. Sama seperti Tuhan Yesus yang lebih dulu mengerti kita. Yang sudah jadi seperti manusia. Dia tahu pergumulan kita…


Jadi. kalo suatu saat makan n nemu bawang putih.. perlu diinget kali ya..

Mungkin bawang itu ada di masakan itu karena ada usaha orang yang rela kotor, rela berjumpa dengan "mai-mai", rela berjuang untuk satu siung bawah putih supaya bisa jadi masakan yang enak untuk kita. Lalu inget, kalo manusia aja bisa mau berjuang untuk bawang putih, apalagi Bapa di Surga. Dia menyerahkan AnakNya supaya menebus kita. Dan bagaimana perjuangan Tuhan Yesus menyelamatkan kita...


o ya, akhirnya.. aku berhasil menyelesaikan misi pembersihan itu, tepat pada waktunya lagi. puas deh.

banyak skali kutemukan bawang yang tinggal siung2 gitu,

dan makhluk2 kecil itu sudah ngak lagi membuatku takut. malah sempat kuselentik juga pake jari biar mereka terhempas jauh. huwakakakak..

yah sekian laporan misi pembersihan dan penyelamatan bawang putih.


Tuhan Yesus memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar