Laman

Selasa, 12 Mei 2009

Kritik dan Pandangan Iman Kristiani: Fenomena Penggunaan Aspek Seksualitas dalam Periklanan Bab 2



Dari pemaparan pada bab sebelumnya dapat dilihat bahwa kebudayaan dimana perempuan itu berdiam ternyata sangat berpengaruh pada pandangannya terhadap dunia dan dirinya sendiri. Praktek aspek seksualitas dan sensualitas pada iklan akan penulis kritisi dan berikan solusi dari tiga sisi: identitas, seksualitas, dan peran iklan


o Identitas


Nilai-nilai Budaya Patriarkat yang masih bertahan sampai sekarang memandang bahwa para perempuan memiliki kedudukan yang lebih rendah dibandingkan oleh pria. Tafisran tidak lengkap oleh budaya Patriarkat meniadakan tujuan manusia diciptakan di dunia ini. Budaya ini memandang bahwa Allah menciptakan perempuan untuk hidup berdampingan dengan pria, tanpa melihat mandat yang Allah berikan. Pandangan yang sama juga datang dari agama-agama lainnya seperti Hadith Islam yang mengandung banyak penghinaan terhadap wanita dan juga di dalam terbitan-terbitan yang baru tentang kewanitaan. Dalam agama Hindu kuno, wanita dipandang sebagai makhluk yang dipandang rendah derajatnya. Demikianlah pula nasib kaum perempuan dalam konfusianisme dan Taoisme. Dalam segala persekutuan adat istiadat patrilinier, terdapat kecenderungan bahwa perempuan kurang penting dibandingkan laki-laki.


Akitab memberikan pandangan bahwa laki-laki dan perempuan sederajat. Dalam Kejadian 1:26-28 menceritakan bagaimana Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya. Dalam ayat 27 dikatakan bahwa Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."


Dalam Kejadian 2:18-24, digambarkan bagaimana Allah membentuk perempuan. Pertama kali Adam menyebut Hawa sebagai ´isysa´ sebab ia diambil dari laki-laki (Kej 2:23). Dan kemudian Adam menyebutnya Hawa, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup. Allah mempunyai maksud dalam penciptaan Perempuan adalah sebagai "penolong yang sepadan". Apa maksud Allah mengambil "rusuk" bukan mengambil dari bagian kepalanya atau bagian dari kaki-nya? Jika diambil dari bagian kepala bisa jadi Perempuan akan berkuasa atas Adam. Dan jika diambil dari bagian kaki, Allah tidak merancangkan Perempuan sebagai tempat injakan laki-laki. Melainkan Perempuan adalah penolong yang "sepadan" bagi laki-laki. Allah sudah merencanakan sesuatu yang mulia. Allah tidak menempatkan kaum perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Mereka diciptakan saling melengkapi satu dengan yang lain untuk mengerjakan mandat yang sudah diberikan oleh Allah.


Ketika manusia jatuh di dalam dosa, laki-laki dan perempuan kehilangan tujuan itu, tetapi Yesus Kristus, Anak Allah yang hidup datang ke dunia untuk menyelamatkan mereka. Yesus tidak menghiraukan adat-istiadat orang Yahudi yang melarang murid-murid perempuan mengikuti Dia, Yesus sendiri berbicara dengan perempuan Samaria. ”Galatia 3:28 ”dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Yesus Kristus.”


Salah satu implikasi dari budaya Patriarkat yang memandang bahwa perempuan diciptakan lebih rendah dari laki-laki adalah dengan menempatkan mereka sebagai obyek seks laki-laki. Pandangan ini menawarkan keutuhan pribadi perempuan terletak pada keberadaanya yang diciptakan untuk pria. Seakan-akan perempuan mencapai kepenuhan hidupnya di dalam seorang pria, ketika melayaninya. Firman Tuhan dalam Kolose 2:9-10 mengatakan, ”sebab di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke Allahan, dan di dalam Dia, Anda telah dibuat utuh, Dialah kepala semua pemerintah dan penguasa.” Allah mengetahui bahwa perempuan tidak dapat menjadi utuh sampai mereka benar-benar mengerti bahwa perempuan akan utuh di dalam Yesus, bukan Adam, bukan pria. Kerinduan perempuan lebih terletak pada pemenuhan emosi, bukan secara fisik yang lebih mudah diberikan oleh pria. Tidak ada seorang pria pun di dunia ini yang dapat memuaskan kerinduan terdalam hati perempuan. Allah telah menciptakan mereka sedemikian rupa sehingga tidak dapat benar-benar puas dengan apapun bahkan siapa pun kecuali diriNya. (Amsal 16:11; 34:8-10). Perempuan harus belajar untuk menerima kerinduan itu, menyerahkannya kepada Tuhan, dan mencari Dia untuk memuaskan keinginan hati yang terdalam.


Dunia dalam budaya Patriarkat telah meyakinkan banyak perempuan bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan perhatian seorang pria (sebagai akibat dari pandangan akan kepuasan yang salah) adalah lewat sebuah tubuh yang indah. Media telah menjual kebohongan bahwa perempuan tidak akan pernah menikahi pria yang diimpikan jika ia tidak cukup cantik atau tidak cukup kurus atau tidak cukup tinggi atau jika ia tidak cukup seksi! Sebagai konsekuensinya, para perempuan menghabiskan jutaan rupiah setiap tahun karena percaya pada mitos bahwa keindahan fisik adalah suatu yang mutlak untuk pernikahan.


Para wanita yang menjadi model dalam iklan-iklan merasa bahwa mereka menjadi bernilai karena diinginkan oleh masyarakat. Mereka membiarkan orang lain menentukan harga diri mereka. Dan jika mereka tidak menemukannya, perempuan menjadi kecewa. Firman Tuhan menjelaskan dalam 1 Petrus 2:4, bahwa Yesus ditolak oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Yesus tidak mencari pengakuan manusia, Dia ditolak oleh manusia-yang diciptakan bagi diri-Nya sendiri, mereka yang dikasihiNya dan yang bagiNya Ia telah menyerahkan hidupnya. Tetapi bukan itu yang menentukan harga diri-Nya. Dia dipilih Allah; itulah yang membuatNya berharga, itulah yang menentukan harga diriNya. Harga diri perempuan bukan terletak pada harga kosmetik yang dia pakai maupun berapa bayaran yang dia terima ketika menjadi model iklan, tapi semata-mata karena Allah yang memilihnya, Allah yang mengasihinya. Karena diciptakan segambar dan serupa dengan-Nya. Tanpa mengusahakan apa pun, semua perempuan telah dikasihi dan berharga di mata Sang Penciptanya. Yesaya 43:4b ”Oleh karena engkau berharga di mataKu dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau”


Sebagai pembawa sifat keindahan, perempuan memiliki kerinduan untuk tampil cantik dan menawan. Tapi hal ini saja tidak mampu membawa perempuan untuk menemukan makna hidupnya. Firman Tuhan dalam Amsal menggambarkan bagaimana seorang perempuan tanpa karakter mendapatkan perhatian seorang pria. Gambaran yang digunakan tentang perempuan ini mencakup bibir licin, mata yang memikat, perkataan yang membujuk dan menggoda, mulut yang lebih licin dari minyak, perkataan rayuan (Amsal 5:3; 6:24-25; 7:21). Penekanannya adalah pada aspek permukaan, eksternal pada seorang perempuan – aspek yang memudar seiring dengan berlalunya hari demi hari. Setiap majalah perempuan mengagungkan teknik perempuan ini dan bukannya mengungkapkan kesudahannya yang pahit.


Firman Allah dengan jelas memperingati para perempuan agar tidak jatuh ke dalam ”jebakan indah sebuah tubuh”. ”perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yiatu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang inda-indah.” ( 1 Petrus 3:3)


Rambut yang dikepang dan perhiasan sendiri bukanlah dosa, tetapi kecantikan sejat tidak ditemukan pada bagian luar. Ayat ini tidak menasihatkan keadaan yang tidak menarik sebagai bukti kesalehan. Beberapa perempuan ada di bawah bimbingan salah persepsi yang menyatakan bahwa untuk menjadi kudus, seseorang harus kelihatan tidak menarik. Hal ini tidak benar. Para perempuan harus berusaha tampil sebaik mungkin. Ayat ini hanya menantang para perempuan untuk tidak mengabdikan semua energinya untuk melukis bagian luar sehingga menelantarkan kualitas kekal yang perlu dikembangkan di dalam.


Kunci keindahan ditemukan dalam 1 Petrus 3:4: tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Keindahan semacam ini hanya akan menjadi semakin baik seiring dengan bertambah usianya. Tentu saja berbeda dengan kecantikan fisik yang memudar seiring dengan bertambah usia. Seperti Jackie Kendall yang berkata: ”jika seorang pria memilihku karena kecantikan eksternal, nasibnya bagaikan memeluk sebuah kismis. Tetapi jika seorang pria memilih aku karena kecantikan batinku, nasibnya adalah kecantikan yang tidak pudar sekalipun dalam senja pernikahan, oleh karena Yesus.”


Gambaran Allah mengenai seorang perempuan yang cantik dalam dilihat dalam Amsal 31:10-31. ada 20 ayat yang menggambarkannya, dan hanya satu ayat yang menyebut penampilan luarnya. Sisanya menggambarkan kualitas yang Allah gambarkan sebagai cantik: seperti bijaksana, baik hati dan saleh. Amsal 31:30 menekankah kecantikan lahiriah dan molek sebagai hal yang sia-sia. ”Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan TUHAN dipuji-puji.” Ada banyak perempuan yang takut jerawat, keriput, paha yang menggelambir dan gairs-garis halus di sekeliling mata, tetapi sedikit perempuan yang benar-benar takut akan Tuhan. Banyak perempuan yang rela membuang banyak biaya untuk mengejar kecantikan yang suatu saat pasti akan hilang, tapi tidak rela memakainya untuk mempercantik karakternya.


Bangkitnya feminisme awalnya merupakan sebuah gerakan yang baik, karena ingin membebaskan kaum perempuan sebagai obyek seks laki-laki. Tapi akhirnya diselewengkan menjadi bentuk pemberontakan kepada Tuhan. Kaum feminis berusaha mengecilkan nilai-nilai seorang wanita dalam rumah tangga mereka, dengan menganggap bahwa wanita yang tunduk terhadap kepada suaminya sama saja memberikan dirinya untuk ditindas.


Dalam hubungan keluarga, Firman Tuhan mengatakan: karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikianlah juga istri kepada suami dalam segala sesuatu. Seorang istri akan mengalami kehidupan yang memuaskan kalau mereka memposisikan diri tunduk kepada suami dan suami tunduk kepada Kristus. Semangat emansipasi wanita dalam keluarga bila diselewengkan akan menjadi pemberontakan kepada Allah. Firman Tuhan dalam ”Efesus 5:24 karena sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.”


Iblis lewat dunia sedang memutarbalikan kebenaran dengan mengatakan bahwa ketika perempuan tunduk kepada perintah Allah, maka ia akan menderita dan kehilangan sesuatu di dalam hidup ini. Iblis meyakinkan perempuan bahwa tunduk adalah suatu konsep yang sempit, negatif, dan membatasi. Dalam 1 Petrus 3:1-2 berbicara mengenai penundukkan oleh isteri akan memberikan tempat kepada Allah untuk bekerja di hati sang suami dan membawanya kepada ketaatan. Petrus melanjutkan dnegan mengatakan bahwa sikap hati yang tunduk menghasilkan keindahan yang paling bercahaya dan kekal dalam diri seorang wanita. Sikap tunduk bukan berhubungan dengan logika, namun berhubungan dengan kasih.



Ketika Allah menciptakan perempuan, dan menempatkannya di sisi Adam, Allah telah menjadikan perempuan penolong yang sepadan. Bersama-sama mereka diharapkan untuk memenuhi bumi dengan generasi masa depan yang terdiri dari pria dan wanita yang mengasihi Allah dan ingin melakukan kehendak-Nya di dunia ini. Hawa dikatakan sebagai ibu segala yang hidup dalam Kejadian 3:20. Hal ini menerangkan bahwa cara perempuan membaktikan diri kepada umat manusia digambarkan dalam keibuannya. Pandangan perempuan berbeda dengan pria, tidak jauh ke depan tapi dekat dengan di sekelilingnya. Ia mengasuh, merawat, memelihara. Pria dan wanita diciptakan sederajat, tapi berbeda dalam peranannya, karena mereka saling melengkapi.


Wanita yang cakap dalam Amsal 31 pada kenyataannya tidak egois. Ia tidak mencari ”kepuasan diri sendiri”; ia tidak mencari ”kepuasan diri sendiri”, tapi dia melayani.


o Seksualitas dan Hawa Nafsu


Mengapa seksualitas menjadi hal yang menarik bagi manusia adalah karena hal tersebut merupakan pemberian Allah dan diinginkan oleh semua orang. Iman Kristen melihat penyimpangan terjadi ketika manusia menggunakannya tidak sesuai dengan rencana dan kehendak Allah, Sang Pemberi itu sendiri. Seksualitas yang salah ketika hal tersebut berubah menjadi hawa nafsu. Dunia menyadari bahwa seks adalah pemberian Tuhan. Itu benar. Allah merupakan inisiator pertama yang membawa manusia pertama bertemu di taman Eden dan Dia sendiri yang memberi perintah untuk manusia supaya beranak cucu dan bertambah banyak. Dunia yang beranggapan bahwa seks diberikan untuk dinikmati oleh manusia, memiliki perspektif yang tidak lengkap terhadap bagian ini dan masuk dalam jebakan iblis. Hadiah yang harus dibuka pada saat pernikahan oleh pasangan suami istri yang saling mencintai dan dikuduskan, kini telah dicemari karena manusia sendiri tidak bisa menahan diri untuk menantikan yang terbaik dari Sang Pemberi.


Kaum feminis beranggapan bahwa hak menikmati seksual perempuan harus dihormati dalam gaya apa pun (lembut ataupun keras) dan tidak dapat dikatakan melanggar hukum. Pengeksposan tubuh tidak lagi dianggap sebagai hal yang melecehkan, namun dilihat sebagai permainan di mana tubuh bagi mereka bukan sesuatu yang esensialis, namun hanya sebagai representasi. Kelompok ini menetapkan bahwa tidak ada salahnya bagi seorang perempuan untuk berani membayangkan fantasi seksual mereka sefantastis-fantastisnya. Segala bentuk permainan seks di dalam literatur seks bukan berarti akan dilakukan oleh perempuan dalam kehidupan sehari-harinya. Namun imajinasi seks yang liar memang dapat membuat perempuan ”ringan” dari beban masyarakat yang selalu menuntutnya untuk menjadi istri yang baik, ibu yang baik dan perempuan yang sempurna.


Seksualitas manusia termasuk di dalam rencana Sang Pencipta, yaitu supaya berkembang sebagai citra Tuhan. Namun hubungan seksual hanya diperkenankan dalam pernikahan. ”Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah” (Ibrani 13:14)


Allah ingin manusia menghargai pernikahan dan yang ada di dalamnya, yaitu seks. Tidak menghormati kedua hal ini, dengan melakukan bentuk penyimpangan dalam hal seksualitas sama saja dengan dosa karena memberontak terhadap Allah.


Hawa nafsu adalah sebuah sikap berhala dan ketamakan akan keinginan yang menolak aturan Allah dan mencari kepuasan yang terlepas dari-Nya. Allah mengatakan ”jangan mengingini” (Keluaran 20:17). Tetapi hawa nafsu memberitahukan kita bahwa apa yang tidak kita miliki adalah apa yang kita butuhkan. Hawa nafsu mengingini apa yang dilarang. Hawa nafsu mencoba meraih dengan mata, hati imajinasi atau tubuh kita, apa yang Allah katakan tidak terhadap sesuatu. Allah menyediakan seks bagi manusia untuk dinikmati, dan lewat hal ini manusia dapat menghasilkan keturunan ilahi, tapi untuk dinikmati dalam rencana-Nya pada pernikahan laki-laki dan perempuan. Tuhan tidak menghendaki hubungan seks dilakukan di luar pernikahan. Hawa nafsu membuat manusia menginginkan hal tersebut sebelum waktunya, dengan cara yang salah dan membawa manusia masuk dalam percabulan.


Para pria memiliki keinginan seksual yang bersifat fisik, sementara keinginan perempuan lebih sering berakar kepada kerinduan emosional. Seorang pria umumnya dirancang sebagai inisiator seksual dan teragsang secara visual: seorang perempuan biasanya dirancang sebagai yang merespon secara seksual dan terangsang oleh sentuhan.


Seorang pria diciptakan untuk mengejar dan menemukan bahkan melakukan rangsangan, sedangkan perempuan diciptakan untuk ingin dikejar dan menemukan bahwa dikejar adalah sesuatu yang menggariahkan.


Hawa nafsu mengaburkan dan membengkokkan sifat maskulin dan feminin yang sebenarnya dalam cara yang berbahaya. Hawa nafsu membuat hasrat baik dari seorang pria untuk mengejar menjadi ”menerkam” dan ”menggunakan” dan keinginan baik dari seornag perempuan untuk tampil cantik menjadi ”menggoda” dan ”memanipulasi”. Kelihatannya secara umum pria dan perempuan tergoda hawa nafsu dengan dua cara yang unik: pria digoda oleh kenikmatan yang ditawarkan oleh hawa nafsu, sementara perempuan tergoda oleh kekuatan yang dijanjikan oleh hawa nafsu.


Hawa nafsu menawarkan pria kenikmatan seks tanpa kerja keras akan keintiman. Hawa nafsu menawarkan wanita kekuatan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam hubungan jika mereka menggunakan seksualitas mereka untuk menggoda. Sebuah contoh bila seorang laki-laki dan perempuan melihat sebuah iklan yang sangat menggairahkan, mereka dapat tergoda kepada hawa nafsu tetapi dalam hal yang berbeda. Laki-laki mungkin tergoda terhadap kenikmatan seksual dengan sang wanita dalam iklan tersebut. Tetapi perempuan ingin terlihat seperti di iklan karena dia tahu bahwa laki-laki menginginkan hal itu.


Dalam batin seorang pria godaan hawa nafsu adalah sebuah keinginan untuk sesuatu yang sensual dan kenikmatan fisik. Kepuasan hawa nafsu bagi seorang pria ialah bahwa hal ini akan terasa nikmat.


Dan oleh karena ini kebanyakan pornografi diarahkan kepada pria dan menggambarkan para perempuan yang menampilkan diri mereka semata-mata untuk kenikmatan pria.


Allah tidak menghendaki manusia melakukan percabulan, melainkan pengudusan. ” 1 Tesalonika 4:3-5 karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah.


Paulus memberikan peringatan yang kerasa terhadap dosa yang menguasai kehidupan seseorang. Tubuh kita bukan untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan. (1 Kor 6:13b). Allah mengharapkan tubuh kita berfungsi sebagai tempat kediamannya. (1 Korintus 6:19).


Ketika manusia memilih hawa nafsu, itu berarti bahwa manusia berada di luar kehendak Allah akan pengudusan, manusia secara aktif menolak Allah:

”Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu”. (1 Tesalonika 4:7-8)


”Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan (moikos), kecemaran (pornos), hawa nafsu,...Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu-seperti yang telah kubuat dahulu – bahwa barangsiapa melakukan hal-hal demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan Allah.” (Galatia 5:19, 21b)


o Peran Iklan


Iklan yang menggunakan aspek seksualitas memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap kondisi manusia.

Bagi wanita karena memberikan realitas palsu bahwa dengan menjadi wanita seperti di dalam iklan akan memberi harga diri yang tinggi dan menjadi dambaan para pria. Padahal identitas sejati perempuan terletak pada citranya yang sesuai dengan Allah pada awal ketika dia diciptakan.


Iklan bagi pria dapat memberikan kenikmatan yang menuju pada keberdosaannya kepada Tuhan. Iklan dapat membawa para laki-laki maupun perempuan masuk dalam godaan. Dan untuk menghindarinya, akan lebih baik bahwa iklan semacam itu tidak pernah ada. Alkitab juga memiliki standar yang kuat, bahkan sampai disebutkan saja jangan, karena hawa nafsu dapat menjerat. ”Tetapi percabulan (pornos) dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal (pornos), orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah. Janganlah kamu disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa, karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah atas orang-orang durhaka. Sebab itu janganlah kamu berkawan dengan mereka. (Efesus 5:3-7)


Mengira bahwa melihat beberapa gambar tidak mempengaruhi seorang pria dan wanita adalah tidak benar. Karena gambar/adegan yang terlihat dapat terekam dan dapat diputar kembali suatu waktu dalam pikiran. Amsal 6:27 ”dapatkah orang membawa api dalam gelumbung baju dengan tidak terbakar pakaiannya?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar